Jun 29, 2010

Oleh-oleh Dari Seorang Filsuf

Tags


Kebetulan tadi malam saya bersama beberapa teman saya pergi ke sebuah acara untuk menghadiri Undangan dari Prof. DR. Jalaludin Rakhmat, atau biasa dikenal dengan Kang Jalal. Undangan tersebut adalah dalam rangka memperingati Milad Sayidina Ali As. yang jatuh pada tanggal 13 Rajjab. Dan puncak acaranya akan dilaksanakan pada hari Minggu 4 Juli 2010 bertempat di SMA plus Muthahari Bandung, yang Insya Allah saya akan hadir kembali dan mudah-mudahan bisa menyaksikan video ziarah Kang Jalal ke makam Sayidina Ali, Masjid dimana Sayidina Ali wafat Dibunuh dengan pedang oleh sahabatnya, dan beberapa tempat lainnya. Saya harap juga pada acara nanti bisa mendapatkan Buku terbaru dari beliau yang Insya Allah berjudul "Kenapa Engkau menangis, Ya rasulullah..."

Sekedar berbagi saja, sebetulnya saya sudah beberapa kali bertemu dengan beliau, tapi itu suah cukup lama dan kemarin kesempatan itu ada lagi. Mungkin, diantara sobat ada salah seorang mahasiswanya yang sudah tidak asing lagi dengan beliau. Akan tetapi, merupakan sebuah kebanggaan tersendiri buat saya pribadi, ketika seorang bodoh ini dapat berdampingan, bersalaman, dan mendapat petuah-petuah dari seorang filsuf yang mempunyai akhlak yang luhur dan keilmuan yang tinggi.
Disini saya tidak akan menuliskan siapa beliau,  biografinya, kegiatannya, buku-bukunya, sekolah miliknya, atau pengalaman beliau ketika mentraining 200 guru katolik  di sekolah kristen dibeberapa daerah di Jawa. (mungkin dilain kesempatan saya tuliskan, Insya Allah). Pada kesempatan ini hanya ingin mencatatkan sedikit apa yang saya dapat sebagai oleh-oleh sepulang dari acara tersebut.
Dalam ceramahnya di sebuah mesjid, kang jalal mengatakan, Rasul Saww. bersabda, "Ana Madinatul Ilmi, wa Aliyyun babuha" artinya "Aku adalah kota Ilmu, dan Ali as. adalah pintunya". Jika kau ingin ilmu dari Rasullullah (Islam) maka lewatilah pintunya, masuklah lewat pintunya yaitu Ali as, karena engkau pasti akan mendapatkan yang benar dan tidak ada yang berubah sedikitpun dari ajaran Islam Rasulullah. 
Hal ini membuat saya merenung, dan memang benar, seperti contoh ketika kita ingin tahu mengenai seseorang, maka tanyakanlah pada seseorang yang paling dekat dengan orang itu, dengan begitu informasi yang didapat akan lebih akurat daripada kita bertannya kepada orang yang jauh bahkan tidak mengenal seseorang itu. Begitu pula dengan Ali as. Dia adalah orang terdekat, kekasih Rasul tercinta, dimana dijaminkan surga baginya.
Itulah sedikit oleh-oleh dari seorang filsuf Prof. DR. Jalaludin Rakhmat, Intelektual muslim yang memiliki pengetahuan dalam berbagai disiplin ilmu, dan terbukti didalam ceramahnya tak jarang diselingi dengan berbagai bahasa asing seperti Belanda dan Perancis. Bukan sebuah benda  tapi setitik ilmu yang bermanfaat. Mohon maaf jika ada salah kata, mohon maaf saya tidak bisa menjabarkan secara luas, karena keterbatasan saya, dan memerlukan pendalaman materi. Jadi saya hanya berbagi cerita saja. Wassalam.

3 komentar

wah pengalaman yang menarik.kalo dipikir2 bener banget si...untuk mengenal sesorang rasanya emang cukup dengan melihat teman terdekatnya....aforisma cina kuno juga bilang..."bila mendekati tinta merah kamu juga akan merah"...

artikel yg menyejukkan hati sob, ty lho sdh posting, jd tambah ilmu sy :)

Sobat @Bang Ngangan, @Anggasona: makasih udh share disini.. Alhmdllh.. senang bs berbagi.. Sukses slalu ya...


EmoticonEmoticon