Jun 5, 2010

Derajat Tawakal Seorang Hamba

Tags


Secara harfiah, tawakal berarti pengakuan ketak-mampuan seseorang dan penyandaran pada seseorang lain dirinya. Dalam kajian tasawuf, tawakal memiliki beberapa derajat sesuai degan maqam hamba Allah Swt. Kwaja 'Abdullah Al-Anshari dalam Manazil al-Sairin mendefinisikan tawakal sebagai mempercaykan atau menyerahkan seluruhnya kepada sang penguasa dan bersandar kepada kemampuannya dalam masalah-masalah itu.Beberapa cendekiawan berkata, "Tawakal berarti menundukkan badan (sperti dalam sujud) dalam ibadah dan mengikatkan hati kepada rububiyyah-Nya (Allah sebagai Rabb, Penguasa). Ini artinya hanya menggunakan kekuatan tubuh sesorang untuk mengabdi kepada Allah tanpa tercampur dengan urusan hati. Masih banyak keterangan-keterangan lain dari para 'arif mengenai tawakal, namun semuanya memiliki makna yang berkaitan bahwa tawakal ini memiliki beragam derajat sesuai dengan maqam sang hamba.
  1. Tawakal Lisan, kelompok manusia dengan keimanan seperti ini dalam menyelesaikan seluruh dunianya mereka tidak bersandar kepada apapun dan hanya memperhitungkan sebab-sebab lahiriah dan faktor-faktor material saja. Kalupun sesekali mereka mengarahkan perhatiannya kepada Allah dan memohon sesuatu dari-Nya maka itu adalah hanya taqlid saja. Atau hanya mengharapkan sesuatu dari-Nya, karena mereka bukan saja melihat tidak adanya keburukan dalam hal itu, tetapi juga melihat kemungkinan memperoleh keuntungan dari-Nya. Jadi kesan dari tawakal ini, ketika mereka memandang bahwa faktor-faktor dan sebab-sebab lahiriah lebih tepat untuk suatu masalah, mereka lalu melupakan Allah Swt sepenuhnya. Ini bukanlah tawakal kepada Allah Swt, baik dalam urusan dunia maupun ukhrawi, melainkan mereka memandang urusan-urusan duniawi sebagai yang lebih penting, mereka menyandarkan dirinya pada sebab-sebab material, dan bukan kepada Allah Swt.
  2. Tawakal Akal, Kelompok ini adalah mereka yang setelah diyakinkan oleh akal ataupun wahyu, membenarkan pandangan bahwa Allah adalah satu-satunya pemutus perkara, sebab dari seluruh sebab, memiliki kekuasaan yang menentukan dalam keseluruhan alam wujud. Mereka mampu memberikan bukti-bukti rasional untuk membenarkan tawakal. mereka juga meneguhkan keyakinan rasional bahwa Ia dalam Zat-Nya, Ia tidak membiarkan seorang hamba tanpa memperoleh apa yang baik bagi mereka sendiri tk mampu membedakan atau tak mampu membedakan atau menentukan apa yang baik dn buruk bagi mereka. Meskipun masuk kelompok mutawakkil pada tingkat pengetahuan rasional, mereka belum mencapai tingkat iman. Kepercayaan mereka masih terguncang jika berhadapan dengan urusan-urusan kehidupan. Ada konflik antara akal dan hati mereka, akal yang dikuasai oleh hati yang masih mempercayai sebab-sebab material dan bukan kekuasaan Allah Swt.
  3. Tawakal Hati, kelompok yang ketiga ini adalah kelompok yang meyakini kekuasaan Allah sampai ke relung hati mereka. mereka inilah yang telah mencapai maqam tawakal. Namun yang membedakan satu dengan yang lainnya dalam kelompok ini adalah tingkatan keimanan. Tingkatan iman tertingi adalah ras puas dan berkecukupan. hati mereka tidak terpengaruh oleh segala sebab, dan terikat kepad rububiyyah Allah. Kepada-Nya mereka bersandar dan dengan-Nya mereka merasa cukup. Inilah tawakal yang dalam kata-kata para arif didefinisikan sebagai 'melepaskan tubuh dalam ibadah kepada Allah dan mengikatkan hati kepada rububiyyah-Nya.
Mengamati ketiga kelompok tersebut, lalu termasuk kedalam kelompok manakah kita? saya berharap dengan segala upaya kita dapat mencapai derajat tawakalyang terbaik.
Lebih jauh lagi, tawakal tidak akan tercapai kecuali setelah hadirnya salah satu penyebabnya yaitu urusan yang untuk penyelesaiannya seorang hamba berserah diri kepada Allah.

1 komentar so far

setuju kawan... kita harus ber tawakal kepada Allah swt. nice article sobat.. :)


EmoticonEmoticon